Hipertensi sebagai penyakit Degeneratif dan
Penatalaksanaannya
Penatalaksanaannya
Perilaku masyarakat indonesia memiliki kecenderungan mengkonsumsi makanan yang tinggi karbohidrat,
rendah protein, serat dan vitamin. Hal itu dipengaruhi karena karbohidrat masih
merupakan sumber energi yang murah. Dari pemantauan konsumsi gizi secara
nasional (1995-1998) terdeteksi
43-50% rumah tangga masih mengkonsumsi
energi kurang dari 1500 Kkal dan 32 gram protein. Keterbatasan ekonomi menjadi
hambtan dalam pemenuhan gizi sesuai dengan anjuran kesehatan. Perilaku makan
asal kenyang tanpa memerhatikan risiko kesehatan masih mewarnai kehidupan
penduduk miskin sehingga timbulah penyakit degeneratif yang menjadi penyebab
kematian terbesar di dunia hingga saat ini. Menurut laporan WHO hampir 17 juta orang meninggal lebih awal tiap
tahunnya akibat penyakit degeneratif. Berdasarkan
survei kesehatan rumah tangga hipertensi menjadi faktor risiko bersama penyakit-penyakit tidak menular
terutama penyakit kardiovaskuler. Berdasarkan data Lab. Ilmu Penyakit Saraf
RSUD Dr. Soetomo pada tahun 1993, penyebab stroke paling banyak karena
hipertensi (81,7%). Hipertensi sendiri
suatu keadaan dimana tekanan darah meningkat melebihi batas normal. Batas
tekanan darah normal bervariasi sesuai dengan usia. Berbagai faktor dapat
memicu terjadinya hipertensi, walaupun sebagian besar (90%) penyebab hipertensi
tidak diketahui (hipertensi essential). Penyebab tekanan darah meningkat adalah
peningkatan kecepatan denyut jantung, peningkatan resistensi (tahanan) dari
pembuluh darah tepi dan peningkatan volume aliran darah. (Mihardja & Siswoyo, 2009)
Di indonesia, hipertensi menempati peringkat ke-2 dari 10 penyakit
terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit pada tahun 2006 dengan
pravelansi sebesar 4.6%. data Riset Kesehatan Dasar (2007) juga menyebutkan
bahwa pravelansi hipertensi di indonesia berkisar 30% dengan insiden komplikasi
penyakit kardiovaskular lebih banyak pada perempuan (52%) dibandingkan
laki-laki.
Berdasarkan penilitian
Rosjidi, tingginya penyakit kardiovaskuler pada masyarakat dengan pendapatan
rendah (Miskin) adalah tingginya kejadian hipertensi dan rendahnya pengetahuan
tentang diet dan aktivitas fisik. Oleh karena itu sangat penting apabila
penderita hipertensi melakukan diet gizi seimbang. Tujuan dari penatalaksanaan
diet adalah membantu menurunkan tekanan darah dan mempertahankan tekanan darah
menuju normal. Disamping itu, diet juga ditujukan untuk menurunkan faktor
risiko lain seperti berat badan yang berlebih, tingginya kadar lemak kolesterol
dan asam urat dalam darah. Harus diperhatikan pula penyakit degeneratif
lain yang menyertai darah tinggi seperti
jantung, ginjal dan diabetes melitus. (Handajani, Roosihermiatie, &
Maryani, 2010)
Prinsip
diet pada penderita hipertensi adalah sebagai berikut :
1.
Makanan
beraneka ragam dan gizi seimbang.
2.
Jenis
dan komposisi makanan disesuaikan dengan
kondisi penderita.
3.
Jumlah
garam dibatasi sesuai dengan kesehatan penderita dan jenis makanan dalam daftar
diet
Yang
dimaksud garam disini adalah garam natrium yang terdapat dalam hampir semua
bahan makanan yang berasal dari heawan dan tumbuh-tumbuhan. Salah satu sumber
utama garam natrium adalah garam dapur dan sebaiknya diganti dengan menggunkan
garam lain diluar natrium. (Atmosoehardjo, 1991)
Selain diet, penderita hipertensi dianjurkan untuk melakukan
olahraga karena dapat menurunkan tekanan sistolik maupun diastolik pada orang
yang mempunyai tekanan darah tinggi tingkat ringan. Olahraga aerobik menimbulkan
efek seperti : beta blocker yang dapat menenangkan sistem saraf simpatikus dan
melambatkan denyut jantung. Jenis olahraga yang efektif menurunkan tekanan
darah adalah olahraga aerobik dengan intensitas sedang (70-80%). Salah satu
contohnya, jalan kaki cepat. Frekuensi latihannya 3-5kali seminggu, dengan lama
latihan 20-60menit sekali latihan. Latihan olahraga bisa menurunkan tekanan
darah karena latihan itu dapat merilekskan pembuluh-pembuluh darah.
Penderita hipertensi sebelum latihan, sebaiknya melakukan uji latih
jantung terlebih dahulu dengan beban (treadmill/ergometer) agar dapat dinilai
reaksi tekanan darah dan perubahan aktifitas listrik jantung (EKG) serta
menilai tingkat kapasitas fisik. Berdasarkan hasil Uji Latih Jantuung, dosis
latihan dapat diberikan secara akurat. Pada saat Uji Latih sebaiknya obat yang
sedang diminum tetap diteruskan, sehingga dapat diketahui efektifitas obat
terhadap kenaikan beban. Obat yang diberikan apakah sudah tepat artinya tekanan
darah berada dalam lingkup ukuran normal. Tekanana darah secara teratur
diperiksa sebelum dan sesudah latihan. Olahraga pada penderita hipertensi tidak
hanya ditentukan oleh denyut jantung, tetapi juga berdasarkan reaksi tekanan
darahnya.
Orang tidak pernah melakukan olahraga menurut penelitian Ralph
Paffernharger, Ph. D., punya risiko mendapat tekanan darah tinggi 35% lebih
besar. Hasil penilitian lain menyimpulkan orang yang tidak pernah berlatih
olahraga risikonya bahkan menjadi 1,5 kalinya. Olahraga seperti jalan kaki atau
jogging, yang dilakukan selama 16 minggu akan mengurangi kadar hormon
norepinefrin (noradrenalin) dalam tubuh, yakni zat yang dikeluarkan sistem
saraf yang dapat menaikkan tekanan darah. (Prasetyo, 2013)
Upaya pencegahan dan penanggulangan hipertensi melalui pola makan
sangat penting bagi penderita hipertensi dan keteraturan pemeriksaan tekanan
darah akan berhasil apabila pasien patuh kepatuhan merupakan tingkat seseorang
dalam melaksnakan aturan-aturan perilaku yang disarankan. Dukungan keluarga
juga sangat berpengaruh terhadap kepatuhan dalam menjalankan diet hipertensi.
Menurut Friedman (2010), dukungan
keluarga adalah sikap, tindakan dan
penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit. Dukungan sosial keluarga adalah sebuah proses yang
terjadi sepanjang masa kehidupan,
sifat dan jenis dukungan sosial berbeda-beda dalam berbagai tahap- tahap siklus
kehidupan. Dukungan keluarga merupakan bagian dari pasien yang paling dekat
dan tidak dapat dipisahkan. Pasien akan
merasa senang dan tentram apabila mendapat perhatian dan dukungan dari
keluarganya, karena dengan dukungan tersebut akan menimbulkan
kepercayaan dirinya untuk menghadapi atau mengelola penyakitnya dengan lebih baik.
Termasuk didalamnya mencakup bantuan langsung seperti dalam bentuk uang,
peralatan, waktu, modifikasi lingkungan maupun menolong pekerjaan. Dukungan
yang diberikan keluarga terkait dengan fungsi keluarga secara afektif, ekonomi dan
fungsi perawatan kesehatan. Fungsi perawatan dan pemeliharaan kesehatan adalah fungsi dalam mempertahankan keadaan
kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki produktifitas yang tinggi.
Dukungan emosional yang
kurang dapat menurunkan motivasi
pasien untuk melakukan perawatan kesehatan. Sedangkan dukungan yang baik
akan meningkatkan motivasi pasien untuk melakukan
perawatan kesehatan dalam hal kontrol secara teratur dan mematuhi diet. (Nainggolan, Yuni, & Mamat,
2012)
Kesimpulan
:
penyakit degeneratif yang menjadi
penyebab kematian terbesar di dunia hingga saat ini. hipertensi menjadi faktor risiko bersama penyakit-penyakit tidak menular
terutama penyakit kardiovaskuler. tingginya kejadian hipertensi diakibatkan oleh rendahnya pengetahuan tentang diet dan
aktivitas fisik. Oleh karena itu, dilakukan penatalaksanaan hipertensi dengan penerapan
diet gizi seimbang dan olahraga secara teratur serta dukungan oleh keluarga
yang bertujuan untuk memberi dorongan agar penderita patuh dalam melakukan penatalaksanaanya.
Daftar Pustaka
Atmosoehardjo. (1991). Diet Bagi Penderita Hipertensi.
Handajani, A., Roosihermiatie, B., & Maryani, H. (2010).
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Pola Kematian Pada Penyakit Degeneratif
di Indonesia. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, 13, 42–53.
Mihardja, L., & Siswoyo, H. (2009). Pravelansi dan Faktor
Determinan Penyakit Jantung di Indonesia, 6.
Nainggolan, F. P., Yuni, A., & Mamat, S. (2012). Hubungan
dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Diit Rendah Garam dan Keteraturan Kontrol
Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi Di Poliklinik RSUD Tugurejo Semarang, 17.
Prasetyo, Y. (2013). Olahraga Bagi Penderita Hipertensi. Jurnal
FIK UNY. Retrieved from
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/132308484/Olahraga_Bagi_Penderita_Hipertensi.pdf