Minggu, 30 Oktober 2016

Hipertensi

Hipertensi sebagai penyakit Degeneratif dan  
                        Penatalaksanaannya

Perilaku  masyarakat  indonesia memiliki kecenderungan  mengkonsumsi makanan yang tinggi karbohidrat, rendah protein, serat dan vitamin. Hal itu dipengaruhi karena karbohidrat masih merupakan sumber energi yang murah. Dari pemantauan konsumsi gizi secara nasional (1995-1998)  terdeteksi 43-50%  rumah tangga masih mengkonsumsi energi kurang dari 1500 Kkal dan 32 gram protein. Keterbatasan ekonomi menjadi hambtan dalam pemenuhan gizi sesuai dengan anjuran kesehatan. Perilaku makan asal kenyang tanpa memerhatikan risiko kesehatan masih mewarnai kehidupan penduduk miskin sehingga timbulah penyakit degeneratif yang menjadi penyebab kematian terbesar di dunia hingga saat ini. Menurut laporan WHO  hampir 17 juta orang meninggal lebih awal tiap tahunnya akibat penyakit degeneratif.  Berdasarkan survei kesehatan rumah tangga hipertensi menjadi faktor  risiko bersama penyakit-penyakit tidak menular terutama penyakit kardiovaskuler. Berdasarkan data Lab. Ilmu Penyakit Saraf RSUD Dr. Soetomo pada tahun 1993, penyebab stroke paling banyak karena hipertensi (81,7%).  Hipertensi sendiri suatu keadaan dimana tekanan darah meningkat melebihi batas normal. Batas tekanan darah normal bervariasi sesuai dengan usia. Berbagai faktor dapat memicu terjadinya hipertensi, walaupun sebagian besar (90%) penyebab hipertensi tidak diketahui (hipertensi essential). Penyebab tekanan darah meningkat adalah peningkatan kecepatan denyut jantung, peningkatan resistensi (tahanan) dari pembuluh darah tepi dan peningkatan volume aliran darah.  (Mihardja & Siswoyo, 2009)
Di indonesia, hipertensi menempati peringkat ke-2 dari 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit pada tahun 2006 dengan pravelansi sebesar 4.6%. data Riset Kesehatan Dasar (2007) juga menyebutkan bahwa pravelansi hipertensi di indonesia berkisar 30% dengan insiden komplikasi penyakit kardiovaskular lebih banyak pada perempuan (52%) dibandingkan laki-laki.
Berdasarkan  penilitian Rosjidi, tingginya penyakit kardiovaskuler pada masyarakat dengan pendapatan rendah (Miskin) adalah tingginya kejadian hipertensi dan rendahnya pengetahuan tentang diet dan aktivitas fisik. Oleh karena itu sangat penting apabila penderita hipertensi melakukan diet gizi seimbang. Tujuan dari penatalaksanaan diet adalah membantu menurunkan tekanan darah dan mempertahankan tekanan darah menuju normal. Disamping itu, diet juga ditujukan untuk menurunkan faktor risiko lain seperti berat badan yang berlebih, tingginya kadar lemak kolesterol dan asam urat dalam darah. Harus diperhatikan pula penyakit degeneratif lain  yang menyertai darah tinggi seperti jantung, ginjal dan diabetes melitus. (Handajani, Roosihermiatie, & Maryani, 2010)
Prinsip diet pada penderita hipertensi adalah sebagai berikut :
1.      Makanan beraneka ragam dan gizi seimbang.
2.      Jenis dan  komposisi makanan disesuaikan dengan kondisi penderita.
3.      Jumlah garam dibatasi sesuai dengan kesehatan penderita dan jenis makanan dalam daftar diet
Yang dimaksud garam disini adalah garam natrium yang terdapat dalam hampir semua bahan makanan yang berasal dari heawan dan tumbuh-tumbuhan. Salah satu sumber utama garam natrium adalah garam dapur dan sebaiknya diganti dengan menggunkan garam lain diluar natrium. (Atmosoehardjo, 1991)
Selain diet, penderita hipertensi dianjurkan untuk melakukan olahraga karena dapat menurunkan tekanan sistolik maupun diastolik pada orang yang mempunyai tekanan darah tinggi tingkat ringan. Olahraga aerobik menimbulkan efek seperti : beta blocker yang dapat menenangkan sistem saraf simpatikus dan melambatkan denyut jantung. Jenis olahraga yang efektif menurunkan tekanan darah adalah olahraga aerobik dengan intensitas sedang (70-80%). Salah satu contohnya, jalan kaki cepat. Frekuensi latihannya 3-5kali seminggu, dengan lama latihan 20-60menit sekali latihan. Latihan olahraga bisa menurunkan tekanan darah karena latihan itu dapat merilekskan pembuluh-pembuluh darah.
Penderita hipertensi sebelum latihan, sebaiknya melakukan uji latih jantung terlebih dahulu dengan beban (treadmill/ergometer) agar dapat dinilai reaksi tekanan darah dan perubahan aktifitas listrik jantung (EKG) serta menilai tingkat kapasitas fisik. Berdasarkan hasil Uji Latih Jantuung, dosis latihan dapat diberikan secara akurat. Pada saat Uji Latih sebaiknya obat yang sedang diminum tetap diteruskan, sehingga dapat diketahui efektifitas obat terhadap kenaikan beban. Obat yang diberikan apakah sudah tepat artinya tekanan darah berada dalam lingkup ukuran normal. Tekanana darah secara teratur diperiksa sebelum dan sesudah latihan. Olahraga pada penderita hipertensi tidak hanya ditentukan oleh denyut jantung, tetapi juga berdasarkan reaksi tekanan darahnya.
Orang tidak pernah melakukan olahraga menurut penelitian Ralph Paffernharger, Ph. D., punya risiko mendapat tekanan darah tinggi 35% lebih besar. Hasil penilitian lain menyimpulkan orang yang tidak pernah berlatih olahraga risikonya bahkan menjadi 1,5 kalinya. Olahraga seperti jalan kaki atau jogging, yang dilakukan selama 16 minggu akan mengurangi kadar hormon norepinefrin (noradrenalin) dalam tubuh, yakni zat yang dikeluarkan sistem saraf yang dapat menaikkan tekanan darah. (Prasetyo, 2013)
Upaya pencegahan dan penanggulangan hipertensi melalui pola makan sangat penting bagi penderita hipertensi dan keteraturan pemeriksaan tekanan darah akan berhasil apabila pasien patuh kepatuhan merupakan tingkat seseorang dalam melaksnakan aturan-aturan perilaku yang disarankan. Dukungan keluarga juga sangat berpengaruh terhadap kepatuhan dalam menjalankan diet hipertensi.
Menurut Friedman (2010), dukungan  keluarga adalah sikap, tindakan dan  penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit. Dukungan  sosial keluarga adalah  sebuah  proses yang  terjadi  sepanjang masa kehidupan, sifat dan jenis dukungan sosial berbeda-beda dalam berbagai tahap- tahap siklus kehidupan. Dukungan keluarga merupakan bagian dari pasien yang paling dekat dan  tidak dapat dipisahkan. Pasien akan merasa senang dan tentram apabila mendapat perhatian dan dukungan dari keluarganya, karena dengan dukungan tersebut akan  menimbulkan  kepercayaan dirinya untuk menghadapi atau  mengelola penyakitnya dengan lebih baik. Termasuk didalamnya mencakup bantuan langsung seperti dalam bentuk uang, peralatan, waktu, modifikasi lingkungan maupun menolong pekerjaan. Dukungan yang diberikan keluarga terkait dengan  fungsi keluarga secara afektif, ekonomi dan fungsi perawatan kesehatan. Fungsi perawatan dan pemeliharaan kesehatan  adalah fungsi dalam mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki produktifitas yang tinggi.
Dukungan emosional yang  kurang dapat  menurunkan  motivasi  pasien untuk melakukan perawatan kesehatan. Sedangkan dukungan yang baik akan  meningkatkan  motivasi pasien untuk  melakukan  perawatan  kesehatan dalam  hal kontrol secara teratur dan  mematuhi diet.  (Nainggolan, Yuni, & Mamat, 2012)
Kesimpulan :
            penyakit degeneratif yang menjadi penyebab kematian terbesar di dunia hingga saat ini.  hipertensi menjadi faktor  risiko bersama penyakit-penyakit tidak menular terutama penyakit kardiovaskuler. tingginya kejadian hipertensi diakibatkan  oleh rendahnya pengetahuan tentang diet dan aktivitas fisik. Oleh karena itu, dilakukan penatalaksanaan hipertensi dengan penerapan diet gizi seimbang dan olahraga secara teratur serta dukungan oleh keluarga yang bertujuan untuk memberi dorongan agar penderita patuh dalam melakukan penatalaksanaanya.

Daftar Pustaka
Atmosoehardjo. (1991). Diet Bagi Penderita Hipertensi.
Handajani, A., Roosihermiatie, B., & Maryani, H. (2010). Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Pola Kematian Pada Penyakit Degeneratif di Indonesia. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, 13, 42–53.
Mihardja, L., & Siswoyo, H. (2009). Pravelansi dan Faktor Determinan Penyakit Jantung di Indonesia, 6.
Nainggolan, F. P., Yuni, A., & Mamat, S. (2012). Hubungan dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Diit Rendah Garam dan Keteraturan Kontrol Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi Di Poliklinik RSUD Tugurejo Semarang, 17.
Prasetyo, Y. (2013). Olahraga Bagi Penderita Hipertensi. Jurnal FIK UNY. Retrieved from http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/132308484/Olahraga_Bagi_Penderita_Hipertensi.pdf